Grand Opening Festival Literasi Kaltim Out of the Boox Resmi Dibuka Gubernur dan Bunda Literasi Kaltim, 800 Lebih Pengunjung Padati Acara

Line Shape Image
Line Shape Image
Grand Opening Festival Literasi Kaltim Out of the Boox Resmi Dibuka Gubernur dan Bunda Literasi Kaltim, 800 Lebih Pengunjung Padati Acara

Grand Opening Festival Literasi Kaltim Out of the Boox Resmi Dibuka Gubernur dan Bunda Literasi Kaltim, 800 Lebih Pengunjung Padati Acara

Samarinda- Festival Literasi Kaltim Out of the Boox resmi dibuka melalui Grand Opening di Aula Tower Kadrie Oening, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim), Minggu (30/8/2026).

Bekerja sama dengan penerbit Mizan, festival literasi tersebut akan berlangsung selama 21 hari dengan menghadirkan bazar buku murah serta berbagai kegiatan edukatif dan kreatif. Kehadiran festival diharapkan menjadi salah satu upaya memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan sekaligus memperkuat budaya literasi di Kalimantan Timur.

Mengusung tema “Membangun Generasi Cerdas, Kreatif, dan Berkarakter, Melalui Budaya Literasi: Membaca, Berkarya, Menginspirasi”, Festival Literasi Kaltim Out of the Boox menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat.

Mulai dari pemerintah daerah, penerbit, komunitas, pegiat literasi, perguruan tinggi, sekolah, hingga masyarakat umum terlibat dalam rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mendorong masyarakat tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu menghasilkan karya dan gagasan.

Gubernur Kaltim, Rudy Masud mengatakan, penyelenggaraan festival tersebut merupakan langkah positif yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks.

Menurutnya, kemampuan literasi menjadi semakin penting agar masyarakat tidak mudah menerima informasi begitu saja, tetapi mampu memahami kondisi yang terjadi di tengah masyarakat secara lebih kritis.

“Semoga ke depannya anak-anak mulai membiasakan membuka, paling tidak membaca buku sedikit demi sedikit. Karena melalui buku, melahirkan inovasi dan karya-karya yang dibutuhkan pada situasi hari ini,” ujar Rudy.

Ia menyebut, tingkat kegemaran membaca dan pembangunan literasi masyarakat di Kaltim menunjukkan perkembangan yang patut diapresiasi, meski masih perlu terus ditingkatkan.

Berdasarkan hasil kajian nasional Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 2025, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Kaltim berada pada angka 57,86, sementara Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) mencapai 44,11.

Rudy berharap angka tersebut dapat terus meningkat seiring dengan semakin masifnya gerakan literasi di daerah. Menurutnya, kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak usia dini agar generasi muda memiliki wawasan yang luas dan mampu melahirkan inovasi sesuai kebutuhan zaman.

Gerakan Literasi Kaltim Diperluas

Sementara itu, Bunda Literasi Kaltim Sarifah Suraidah Harum menilai Festival Literasi Kaltim Out of the Boox menjadi momentum yang baik untuk memperkuat gerakan literasi di daerah.

Bersamaan dengan pelaksanaan Grand Opening, Gerakan Literasi Kaltim juga resmi diperkenalkan kepada masyarakat. Gerakan tersebut ke depan akan terus disosialisasikan dan dilaksanakan secara masif dengan menyasar berbagai lapisan masyarakat.

Sarifah mengatakan, sejumlah program akan dikembangkan, di antaranya gerakan satu kampung literasi di setiap desa, satu guru satu buku, serta program OPD mengajar.

Program tersebut diharapkan dapat membuat gerakan literasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan bersama yang hadir hingga tingkat desa dan lingkungan pendidikan.

Dengan keterlibatan pemerintah, tenaga pendidik, organisasi perangkat daerah, komunitas, dan masyarakat, budaya literasi diharapkan dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Antusiasme Masyarakat Tinggi

Antusiasme masyarakat terhadap festival juga terlihat sejak hari pertama pelaksanaan. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltim Lisa Hasliana menyebut lebih dari 800 pengunjung telah datang sejak hari pertama hingga pertengahan hari kedua pelaksanaan Festival Literasi Kaltim dan Gudang Buku Keliling (GBK) Kadrie Oening.

Tingginya jumlah pengunjung tersebut menunjukkan adanya minat masyarakat Kaltim terhadap buku dan berbagai kegiatan literasi.

Lisa mengaku mengapresiasi antusiasme masyarakat yang terlihat dari ramainya area festival hingga panjangnya antrean masyarakat untuk membeli buku.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal positif bahwa akses terhadap buku dengan harga terjangkau masih memiliki daya tarik yang kuat bagi masyarakat.

Namun, Lisa menegaskan bahwa literasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis.

“Literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi menjadi kemampuan masyarakat dalam memahami informasi, memilah informasi yang diterima, berpikir kritis, serta mengambil keputusan secara bijaksana dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Karena itu, keberadaan perpustakaan juga diharapkan terus berkembang. Perpustakaan tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi dapat menjadi ruang publik yang mendorong masyarakat untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, sekaligus menghasilkan berbagai inovasi.

Hari Kedua Diisi Beragam Kegiatan Kreatif

Selain bazar buku murah, Festival Literasi Kaltim Out of the Boox juga menghadirkan berbagai kegiatan kreatif yang melibatkan komunitas dan pegiat literasi.

Pada rangkaian kegiatan hari kedua, masyarakat dapat mengikuti sejumlah agenda, di antaranya Proses Dasar Pembuatan Komik bersama Komunitas Samarinda Read Aloud (SAMARA) yang menggandeng penulis dan ilustrator Komik Terpampang di Pampang.

Selain itu, terdapat Workshop Pastelbook yang menyasar kalangan remaja atau siswa SMA bersama Komunitas KetakKetik Samarinda, serta Workshop Kecil-Kecil Punya Karya bersama Penerbit Mizan.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa literasi yang dibangun melalui festival tidak hanya berorientasi pada aktivitas membaca.

Masyarakat juga diajak memperoleh pengetahuan praktis, berdiskusi, menulis, menciptakan karya, serta mengekspresikan gagasan melalui berbagai bentuk seni dan kreativitas.

Selama 21 hari pelaksanaan, Festival Literasi Kaltim Out of the Boox akan terus menghadirkan beragam agenda dengan melibatkan komunitas, pegiat literasi, penerbit, akademisi, sekolah, dan berbagai unsur masyarakat.

Talkshow, seminar, workshop, hingga kelas kreatif dijadwalkan mengisi rangkaian festival sehingga masyarakat memiliki beragam pilihan aktivitas yang bersifat edukatif sekaligus menghibur.

Bangun Ekosistem Literasi Berkelanjutan

Festival Literasi Kaltim Out of the Boox diharapkan tidak hanya menjadi berburu buku murah, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun ekosistem literasi yang lebih kuat di Kalimantan Timur.Pertemuan antara pemerintah, penerbit, komunitas, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat umum menjadi modal penting untuk membangun gerakan literasi yang berkelanjutan. Melalui festival tersebut, masyarakat diberikan ruang untuk bertemu, membaca, belajar, berdiskusi, berkarya, dan saling menginspirasi.S emangat membaca, berkarya, dan menginspirasi diharapkan dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kaltim.

Pada akhirnya, penguatan budaya literasi diharapkan mampu mendukung lahirnya generasi Kalimantan Timur yang tidak hanya cerdas secara pengetahuan, tetapi juga kreatif, kritis, adaptif, dan memiliki karakter kuat dalam menghadapi tantangan zaman.

Sumber: Humas DPK Kaltim

 


Ada Aspirasi/Pengaduan yang mau anda sampaikan?

Sampaikan disini lapor.go.id
Shape Image
Shape Image