Pustakawan Ahli Utama Jawa Timur Kunjungi DPK Kaltim, Dorong Akselerasi Literasi yang Berdampak bagi Masyarakat
Samarinda- Lima Pustakawan Ahli Utama dari Provinsi Jawa Timur melakukan kunjungan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kalimantan Timur, Kunjungan ini menjadi momentum pertukaran informasi dan pengalaman dalam pengembangan perpustakaan serta peningkatan literasi masyarakat di kedua provinsi, Rabu (5/8/2026).
Kelima Pustakawan Ahli Utama tersebut yakni Drs. Sudjono, M.M., Drs. Soekaryo, M.M., Drs. Abimanyu Poncoatmojo Iswinarno, M.M., Soekarno, S.H., M.M., dan Jempin Marbun, S.H., M.H. Kedatangan rombongan disambut hangat Kepala DPK Kaltim, Ir. Lisa Hasliana, M.Si., beserta jajaran, pustakawan, dan arsiparis DPK Kaltim.
Pertemuan tersebut diisi dengan pertukaran informasi mengenai berbagai program peningkatan literasi masyarakat yang telah dilaksanakan di masing-masing daerah. Hal ini sekaligus menjadi kesempatan bagi DPK Kaltim untuk menggali praktik baik dari Jawa Timur dalam meningkatkan pembangunan literasi.
“IPLM (Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat) Jatim nomor satu se-Indonesia dengan nilai 70,65 kategori baik. DPK Kaltim perlu belajar dari Jatim mengupayakan capaian tersebut. Namun, tidak sekadar capaian nilai, program juga harus berdampak dan melibatkan langsung masyarakat,” ujar Kepala DPK Kaltim, Lisa Hasliana.
Menurut Lisa, keberhasilan pembangunan literasi tidak hanya dapat dilihat dari angka indeks, tetapi juga dari sejauh mana keberadaan perpustakaan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, diperlukan inovasi dan program yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendorong mereka menjadi bagian aktif dalam gerakan literasi.
Sementara itu, salah satu perwakilan Pustakawan Ahli Utama Jawa Timur Abimanyu, menjelaskan sejumlah praktik pengembangan perpustakaan yang telah dilakukan di Jawa Timur, salah satunya melalui penerapan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).
Abimanyu mengatakan, TPBIS menjadi salah satu cara untuk mempercepat masyarakat dalam merasakan manfaat kehadiran perpustakaan. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi, mengenal kebudayaan, serta menghasilkan karya.
“Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial itu bagaimana perpustakaan bisa hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Jadi, perpustakaan tidak hanya berbicara tentang buku, tetapi juga bagaimana potensi masyarakat dan potensi lokal dapat diangkat menjadi sebuah kekuatan literasi,” jelas Abimanyu.
Ia mencontohkan pengembangan galeri yang mengangkat kekayaan budaya lokal, seperti Galeri Mojopahit, Wali Limo, dan Budaya Arek Surabaya. Menurutnya, penguatan identitas lokal melalui perpustakaan dapat menjadi daya tarik sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.
Abimanyu juga menekankan pentingnya peran Pustakawan Ahli Utama untuk tidak berhenti pada tugas kedinasan maupun pencapaian jenjang karier. Pustakawan juga diharapkan mampu menjadi penggerak dan teladan dalam membangun budaya literasi.
“Pustakawan Ahli Utama juga harus produktif menulis dan menghasilkan karya. Kami terlibat dalam penulisan buku sebagai bagian dari upaya menunjukkan bahwa pustakawan juga dapat menjadi contoh bagi masyarakat. Gerakan literasi itu bisa dimulai dari siapa saja dan dari lingkungan masing-masing,” ungkapnya.
Menurut Abimanyu, pengalaman Jawa Timur dalam mengembangkan program literasi dapat menjadi bahan pembelajaran bersama bagi Kaltim. Namun, setiap daerah tetap perlu menyesuaikan program dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Sebelum bertolak ke Kantor DPK Kaltim, rombongan Pustakawan Ahli Utama Jawa Timur terlebih dahulu menyambangi Ibu Kota Nusantara (IKN). Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bagian dari studi banding untuk melihat potensi pengembangan literasi di kawasan IKN.
Kunjungan para Pustakawan Ahli Utama Jawa Timur diharapkan dapat memberikan semangat dan motivasi bagi para pustakawan di Kaltim untuk terus meningkatkan kapasitas dan kompetensinya. Akselerasi diri pustakawan diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan karier, tetapi juga diarahkan pada kebermanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat.
Pertukaran pengalaman antara Jawa Timur dan Kaltim ini menjadi langkah positif dalam membangun jejaring pustakawan sekaligus memperkuat komitmen bersama untuk menghadirkan perpustakaan yang semakin dekat, relevan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sumber: Humas DPK Kaltim