TBM Iqro Rayakan Kartini Melalui Buku Dan Warisan Budaya

Line Shape Image
Line Shape Image
TBM Iqro Rayakan Kartini Melalui Buku Dan Warisan Budaya

TBM Iqro Rayakan Kartini Melalui Buku Dan Warisan Budaya

Samarinda- Taman Baca Masyarakat (TBM) Iqro Samarinda merayakan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026 hari ini dengan selebrasi yang berbeda. Dengan tetap menggelorakan semangat Raden Ajeng Kartini untuk memperjuangkan hak Perempuan Indonesia, TBM Iqro menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Timur serta Bank Indonesia Kantor Wilayah Kalimantan Timur dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Kaltim menyelenggarakan Bedah Buku Tradisi Kalimantan Timur dan Workshop Tari Jepen, Selasa (21/4/2026)

Rachmawati selaku Penulis dan Pendiri TBM Iqro menjadi narasumber dan membagikan proses dan tantangannya menerbitkan Buku Tradisi Kalimantan Timur. Rachmawati menyebutkan dua buku yang ia bagikan pada saat kegiatan Bedah Buku kepada peserta yakni Tarsul Warisan Budaya Tak Benda Kutai Kartanegara dan Mengenal Tradisi Kalimantan Timur adalah dua buku yang ia tulis dengan bahasa “kekinian” agar target pembaca yang ia harapkan yakni anak muda, dapat tergugah untuk mendalami kebudayaan melalui buku ciptaannya.

“Tarsul adalah warisan budaya tak benda yakni tradisi lisan yang perlu dilestarikan. Masyarakat Kalimantan Timur yang multikultural menciptakan ribuan budaya yang perlu dijaga keberadaannya seperti Tarsul. Sehingga, melalui buku ini, merupakan langkah melestarikan kebudayaan melalui literasi,” papar Rachmawati.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Timur, Lisa Hasliana, juga menyambut baik inisiasi TBM Iqro dalam melestarikan kebudayaan melalui literasi. Menurut Lisa, Perpustakaan yang sudah bertransformasi berbasis inklusi sosial harus bisa dimanfaatkan dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkarya dan melaksanakan kegiatan-kegiatan pengembangan literasi lainnya.

“Melalui acara ini akan menambah kepekaan masyarakat dengan budaya. Dengan kita memperkenalkan Tarsul dan Tari Jepen, maka akan memperkaya khasanah budaya masyarakat Kalimantan Timur agar budaya ini menjadi bagian dari gaya hidup dan terus dikembangkan,” ungkap Lisa sapaan akrabnya.

Senada dengan Lisa, T. Lestari selaku Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah XIV Kaltimtara menyebutkan terdapat 66 Warisan Tak Benda di Kalimantan Timur salah satunya Tarsul.

Ia menegaskan kebudayaan adalah milk masyarakat bukan Pemerintah. Sehingga, kedepannya ia berharap Tarsul menjadi “pembuka” kebiasaan masyarakat untuk kembali berinteraksi dengan Bahasa Ibu, yakni Bahasa Kutai dalam kehidupan sehari-hari.

“Di Kaltim saat ini sudah minimnya penutur Bahasa Kutai. Sehingga, kita berharap melalui buku ini dapat meningkatkan kembali keterampilan berbahasa daerah dalam interaksi sosial. Semoga, Pemerintah pun juga mempertimbangkan penerapan satu hari dalam satu pekan berbahasa daerah seperti Bahasa Kutai. Acara ini tentunya sangat bermanfaat,” terang T.

Usai bedah buku, para peserta diajak untuk berkenalan dengan Tari Jepen, Tari khas Suku Kutai. Novarita, selaku Penulis Buku Pengembangan Kurikulum Berbasis Budaya sebagai Upaya Pelestarian dan Pengembangan Tari Jepen Kutai mengungkapkan tarian ini berasal dari tradisi Tari Melayu yang digerakkan dengan penuh kelembutan dengan sentuhan Islam yang diiringi dengan syair, doa, dan sarat pesan moral.

“Tari Jepen bukan sekadar hiburan. Tarian ini adalah narasi hidup masyarakat Kutai yang bergerak,” cerita Novarita.

Novarita juga mengajak para peserta untuk menarikan Tari Jepen bersama di penghujung acara.

Novarita bersama Tim Tari Tradisional telah membawa Jepen ke kancah dunia. 43 negara telah ia sambangi untuk mengharumkan Kalimantan Timur di mata dunia dengan membawakan tarian ini di dalam festival-festival kebudayaan internasional. Beberapa negara yakni, Inggis, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan terakhir Tari Jepen tampil pada Festival Songkran di Bangkok pada 12-16 April 2026.

“Jepen mempunyai ragam jenis seperti Jepen Kipas, Jepen Seraung, Jepen Panen, dan Jepen Kreasi. Terdapat 13 ragam gerakan dalam satu Tari Jepen. Itu lah yang membuat tarian ini begitu indah dan menarik mata,” pungkas Novarita.

Sumber: Humas DPK Kaltim


Ada Aspirasi/Pengaduan yang mau anda sampaikan?

Sampaikan disini lapor.go.id
Shape Image
Shape Image